Swara Jalawara Hawara, Kerinduan Huma dari Para Seniman Muda

- Kamis, 19 Januari 2023 | 12:45 WIB
Kolaborasi musik yang apik akan tersaji pada acara Swara Jalawara Hawara. (Referensi Berita)
Kolaborasi musik yang apik akan tersaji pada acara Swara Jalawara Hawara. (Referensi Berita)


REFERENSI BERITA - Huma adalah "tempat bermain" yang menyenangkan bagi Rizal Mahfud sejak kecil.

Bagi musisi asal Kabupaten Pandeglang yang menekuni musik tradisi ini, Huma menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan karya Swara Jalawara Hawara (Suara untuk Padi), sebagai tumpahan kerinduan, sekaligus ajakan bagi generasi muda untuk mengenal pertanian tradisional dan sumber hirup dan hurip masyarakat Sunda.

Huma sendiri merupakan pola pertanian tradisional masyarakat Sunda untuk menanam padi di ladang kering, tanpa sistem pengairan atau irigasi.

Baca Juga: Ketua DPD HJKI Provinsi Banten: Lelang Proyek Terlambat, Citra Pemprov Pasti Jelek

Enam tahun belakangan, Rizal Mahfud mulai melihat Huma dari perspektif bunyi. Khususnya, sejak pertemuannya dengan Abah Kalimi, maestro Calung Renteng sekaligus guru yang mengajarinya Calung Renteng dan berbagai warisan tradisi Huma.

Dia menerangkan, Cibaliung dan Pandeglang Selatan dahulu dikenal sebagai salah satu wilayah dengan Huma yang paling luas di Banten.

Tetapi, modernisasi dan industrialisasi di segala bidang, termasuk pertanian, membuat jumlah lahan dan petani Huma di wilayah ini semakin berkurang, pun warisan tradisi yang hidup di masyarakatnya perlahan menghilang.

Baca Juga: Soal Lelang Proyek, Pejabat Pemprov Banten Diminta jangan Cari-cari Alasan

“Karya ini jadi rangkuman sekaligus tumpahan rasa rindu dan keresahan atas tradisi Huma di Cibaliung yang semakin terkikis. Kerinduan pada kidung yang biasa dinyanyikan untuk kesuburan padi, kepada bunyi-bunyi seperti Calung Renteng, Omprang, sampai Lesung yang dulu ramai bersahutan dari huma dan saung. Terutama, kerinduan pada suasana liliuran atau kolektivitas masyarakat yang terasa dari mulai menanam padi sampai merayakan panen di Seren Taun. Sekarang, Seren Taun sudah tidak dirayakan lagi di Cibaliung,” ungkap Rizal Mahfud.

Dalam menciptakan karya tersebut, Rizal mendapatkan dukungan dari program Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Dana Indonesiana yang difasilitasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi bekerja sama dengan LPDP.

Halaman:

Editor: Rukman Nurhalim Mamora

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengenal Tradisi Mitoni, Ritual 7 Bulanan Adat Jawa

Sabtu, 22 Januari 2022 | 08:32 WIB

Akademisi Untirta: Sunda tak cuma Bahasa, tapi....

Rabu, 19 Januari 2022 | 21:00 WIB
X