Pendapat Ibnu Khaldun Mengenai Umur Sebuah Negara Tidak akan Lebih Dari 120 Tahun

- Sabtu, 4 Desember 2021 | 07:59 WIB
Ibnu Khaldun/filsuf Islam ahli sosiologi dan ekonomi
Ibnu Khaldun/filsuf Islam ahli sosiologi dan ekonomi

 
REFERENSI BERITA- Salah satu filsuf Islam terkemuka bernama Ibnu Khaldun mengungkapkan hal yang provokatif mengenai umur sebuah negara.

Ibnu Khaldun memberikan pandangan tentang eksistensi sebuah negara yang menurutnya pada akhirnya akan mengalami kemunduran.

Menurutnya negara memiliki siklus kehidupan seperti halnya manusia, yakni lahir kemudian tumbuh menjadi kuat lalu tua dan mati.

Baca Juga: Rektor Ibnu Chaldun Bungkam Mulut Pembenci, Sebut Jakarta tidak Amburadul

Hal ini seperti dikutip Referensi Berita pada Sabtu, 04 Desember 2021, dari buku Bencana-Bencana Besar Dalam Sejarah Islam karya Dr. Fatih Zaghrut , diterjemahkan Masturi Irham, hal. 18-19.

Ibnu Khaldun mengatakan, bahwa umur sebuah negara tidak akan lebih dari 120 tahun. Kemudian ia membagi 120 tahun tersebut ke dalam tiga periode yaitu:

Pertama, menurutnya periode pertumbuhan, yaitu dimana kemenangan dan kemapanan berhasil diperoleh oleh suatu bangsa.

Baca Juga: Pandangan Ibnu Khaldun Tentang Politik, Penguasa dan Kekuasaan, Salah Satunya Jangan Terlalu Pintar
 
Para pemimpin negara pada umumnya kuat dan memiliki kelebihan berupa kesabaran dan kepiawaian dalam menangani persoalan.

Kedua, periode ini sedikit lebih lemah dari yang pertama. Ia tidak merasakan kesusahan dalam mendirikan sebuah daulah (negara).
 
Akan tetapi ia menerima daulah (negara) yang telah berdiri dan mewarisi kerajaan dari para orang tua.

Baca Juga: Indonesia Ngutang Lagi, Rektor Ibnu Chaldun Ngaku Khawatir

"Mereka mewarisi kekuatan dari periode sebelumnya yang membuat mereka kuat sampai batas tertentu,"  kata Ibnu Khaldun.

"Mereka juga bergelimang harta dan tenggelam dalam kelezatan makanan dan minuman, serta condong kepada para wanita," jelasnya.

Ketiga, menurut Ibnu Khaldun, periode mendapatkan kerajaan, harta, jabatan yang besar dan terkenal sehingga cenderung santai.

Baca Juga: Luar Biasa! Para Ilmuan AS Teliti Gerakan Sholat Ternyata Ini Hasilnya
 
Ibnu Khaldun mengatakan di tangan generasi seperti inilah kebanyakan daulah (negara) akan berakhir.

Selain berbicara tentang periode-periode perkembangan umat, Ibnu Khaldun dalam bukunya Al-Mukadimah juga berbicara tentang fanatisme.

Namun fanatisme dalam pemahamannya bukanlah panatisme dalam arti  sempit melainkan fanatisme dalam arti modern yaitu jiwa kebangsaan dan nasionalisme.

Baca Juga: Indonesia Juga Punya Ilmuan, Kenali Lima Ilmuan Indonesia yang Karyanya Mendunia

Selain itu, ia juga menyertakan setiap tahapan kehancuran dengan faktor penyebab keruntuhannya hingga berakhir pada jatuhnya sebuah negara.
 
Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa bahwa negara akan melewati lima fase. Sebuah gambaran yang luar biasa tentang kehancuran sebuah negara tahap demi tahap.
 
Pertama, fase berdiri dan tumbuh, dimana kita melihat sekelompok orang yang memiliki fanatisme berjuang dan bertempur hingga berhasil memperoleh kekuasaan.

Baca Juga: Dari India Sampai Eropa, Deretan Negara Ini Dilanda Krisis Energi

Mereka bersepakat atas kekuasaan tersebut dengan saling bekerja sama.

Kedua, fase kediktatoran dan memonopoli kekuasaan dan kepemim-pinan.

Misalnya, salah satu dari mereka berupaya agar kekuasaan berada di tangannya dan di tangan keturunannya yang muncul sesudahnya, dan berupaya agar ia memiliki nama yang baik, kekuasaan yang luas dan jabatan yang tinggi.

Baca Juga: Kenali 10 Negara Paling Berpendidikan di Dunia Menurut Most Educated Countries 2021

Ketiga, fase kevakuman dan ketenangan guna mengumpulkan hasil kekuasaan.

Keempat, fase ketundukan dan meniru para pendahulu, dimana sebagian orang percaya bahwa apa yang dilakukan oleh nenek moyangnya adalah baik.

Kelima, fase pemborosan harta dan menjalin hubungan dengan teman yang buruk serta mengasingkan orang-orang baik yang gemar memberikan nasehat-nasehat bijak.***

Editor: Suardi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X